Categories Indepth Uncategorized

Pedang Tanpa Medali Tangis di Atas Podium Kosong, Kisah Dua Srikandi Anggar Kota Malang Korban Kepentingan

Vox Populi, Kota Malang – Di sudut ruangan di sebuah rumah dua orang remaja Kota Malang menatap ujung pedang dan mask anggar yang mulai berkarat. Bukan karena usia, melainkan karena luka yang tak kasat mata, penghianatan terhadap prestasi.

Mereka bukan siapa-siapa, bukan anak pejabat KONI, bukan juga anak seorang petinggi pemerintahan. Tapi sejak usia dini mereka sudah jatuh cinta pada anggar, olahraga yang sepi sponsor, sepi sorotan, tapi penuh kedisplinan.

Andi Almira Rahmadani Luqman dan Mathilis Denalin Wula Muskanan keduanya siswi dan alumni SMA Negeri 1 Kota Malang yang berjuang demi sebuah tujuan yaitu prestasi.

Harga dari perjuangan itu mahal. Masa remaja yang biasanya diisi canda teman dan hangat keluarga harus ditebus dengan peluh dan tekanan mental.

“Kami berlatih sangat intens dan sering sekali, dari senin hingga sabtu hampir setiap hari dengan waktu latihan sampai 7 jam,” ujar Denalin saat ditemui, Jum’at (25/7/2025).

Selain itu Denalin menceritakan bahwa dirinya dan Almira juga banyak mengorbankan waktu dan juga kesempatan belajar sebagai siswa karena harus fokus kepada latihan.

“Latihan itu lama, waktu untuk belajar juga tersita dan kumpul bersama keluarga juga dikorbankan, bahkan masa-masa SMA yang ingin bermain bersama teman-teman tidak bisa dilakukan karena harus fokus berlatih,” tambah Denalin.

Almira juga menambahkan bahwa dirinya mulai latihan di Pusat Latihan Kota (Puslakot) sejak bulan Agustus 2024 hingga bulan Juni untuk persiapan kejuaraan di Porprov IX Jatim.

Hingga waktunya tiba untuk bertanding, Almira dan Denalin masih menyimpan video terakhirnya di Porprov IX Jawa Timur 2025. Dalam cuplikan itu, mereka dan tim anggar Kota Malang berhasil menumbangkan lawan tangguh dan mengamankan posisi pertama.

Pertandingan Anggar Porprov IX Jatim yang diselenggarakan di markas Divisi Kostrad Singosari Malang

Peluk bahagia, teriakan tim, dan pelatih yang nyaris meneteskan air mata semuanya terekam jelas. Kemenangan yang diraih adalah hasil kerja keras selama beberapa bulan dengan latihan dan dan disiplin yang tinggi.

Namun kemenangan yang didapatkan serta kebahagiaan karena mampu menorehkan prestasi seketika menjadi kesedihan. Sebab apa yang telah ditorehkan, medali emas yang didapatkan tidak diakui bahkan piagam penghargaan tidak diberikan, hanya karena sebuah kepentingan para elit pengurus olahraga.

Tim anggar Kota malang yang mereka bela tiba-tiba ‘hilang’. Isu konflik kepentingan di tubuh cabor anggar merembet pada keabsahan tim. Para atlet tidak ada yang tahu, tapi mereka yang paling dirugikan.

“Kami sangat kecewa sedih dan menangis, karena perjuangan kami bukan perjuangan yang mudah apalagi kita adalah tuan rumah,” kata Denalin.

Bahkan menurut Almira yang bersekolah di SMA Negeri 1, dirinya merasa malu dengan kawan-kawan dan guru di lingkungan sekolah.

“Di sekolah itu ada grup khusus atlet porprov, dan banyak informasi mengenai medali-medali yang didapatkan oleh para atlet dari SMA 1. Namun pertanyaan-pertanyaan mengenai kemenangan tersebut tidak bisa saya jelaskan kepada guru,” jelas Almira kepada Vox populi.

Dalam wawancara ini kesedihan dua srikandi anggar Kota Malang sangat terlihat jelas. Denalin mengungkapkan bahwa rasa kecewa yang ia alami sempat membuat dirinya ingin mengundurkan diri dari dunia olahraga anggar.

“Mungkin sudah terlanjur kecewa ya, kami sudah berjuang sebegitu hebatnya namun hilang begitu saja. Tapi seiring waktu kekecewaan itu tidak membuat kami harus mundur untuk terus mengukir prestasi,” ucap Denalin.

Kisah Almira dan Denalin adalah cermin betapa sering kepentingan elite membungkam kerja keras dari bawah. Bahwa dalam gelanggang Porprov, medali bukan hanya soal siapa yang tercepat atau terkuat. Namun lebih dari itu medali adalah keringat dan darah serta semangat para anak muda demi satu tujuan yaitu prestasi.

Kini, dua pedang itu hanya simbol perjuangan yang tak dihargai. Tapi bagi Almira dan Denalin, luka ini bukan akhir.

“Tetap Semangat, jangan terkecoh dengan persoalan ini. Seharusnya kita tidak terlibat dalam hal ini. Yang paling penting jangan pantang menyerah,” ujar mereka.

Meski podium kosong, hati mereka tetap berdiri tegak, dan pedang itu suatu hari akan berkilau kembali.

Perlindungan bagi anak

Agustinus Tedja G K Bawana, Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) menilai bahwa persoalan atlet anggar pada porprov IX Jawa Timur telah melanggar hak anak.

Ditambahkan juga olehnya bahwa hal ini bertentangan dengan semangat pembinaan atlet nasional serta komitmen pemerintah dalam memajukan olahraga dan melindungi hak anak.

“Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pelayanan dalam pengembangan dan pembinaan olahraga, termasuk penghargaan atas prestasi,” ucap Agustinus Tedja.

“Kasus ini berpotensi sebagai bentuk pengingkaran janji institusional dan diskriminasi terhadap atlet muda. Khususnya karena sebagian besar atlet masih tergolong sebagai anak dan remaja di bawah 18 tahun,” tambahnya.

Ketua Umum JKJT, Agustinus Tedja saat mendampingi atlet anggar Kota Malang

Secara tegas dirinya mengatakan bahwa pihak panitia, Pemerintah Daerah, dan KONI harus bertanggung jawab.

“Sekali lagi jangan membuat anak-anak menjadi korban bagi kepentingan sekelompok orang. Kami akan terus mendampingi anak-anak dan berharap kepada pihak-pihak terkait untuk tidak menyepelekan integritas bangsa atas semangat anak-anak yang harus diapresiasi dan dikembangkan,” tegasnya.

Seperti yang banyak orang bilang, bahwa semangat olahraga adalah sportivitas. Politik dalam tubuh olahraga dapat mengerogoti spirit atlet. Dan yang paling menyakitkan para atlet tidak diberi penjelasan.

Kasus ini kini menjadi buah bibir dikalangan atlet muda Kota Malang. Pertanyaan banyak muncul apakah layak lagi bermimpi lewat olahraga?

Almira dan Denalin tetap berlatih menggunakan pakaian anggar kebanggaan mereka (foto : roni)

Sementara itu, Almira dan Denalin belum berhenti berlatih. Mereka tahu, kemenangan sejati bukan hanya tentang medali yang digantung di leher, tapi tentang keberanian melawan rasa takut pada diri sendiri dan tetap berjalan pada jalan hidup sebagai atlet muda.

More From Author

Tinggalkan Balasan

You May Also Like

Dugaan Pungutan Ijazah SMAN 4 Kota Malang, Sekolah Angkat Bicara

Vox Populi, Kota Malang – Kabar dugaan pungutan ijazah di SMAN 4 Kota Malang mendadak…

Baju Khas Malangan, Dari Identitas Menjadi Gugatan

Vox Populi, Kota Malang – 1 April 2026 bertepatan dengan HUT Kota Malang yang ke…

Demokrasi Lokal Malang di Persimpangan: Antara Prosedur dan Substansi

Wawancara Khusus Vox Populi, Kota Malang — Perkembangan demokrasi lokal di Kota Malang tengah memasuki fase…