Categories Opinion

Toleransi Semu di Negeri Plural : Ketika Panggung Diberikan untuk Penceramah Kontroversial

Vox Populi, Editorial, Kota Malang – Ketika Dr. Zakir Naik datang ke Kota Malang pada minggu lalu, ribuan orang menyambutnya bak selebritas rohani. Lapangan rumput Stadion Gajayana penuh dengan kursi untuk duduk para penonton yang menunggu dirinya pidato. Terdapat pula sebagian pejabat yang berebut foto bersama. Serta spanduk-spanduk selamat datang bertebaran di seluruh penjuru Kota Malang.

Namun dibalik sambutan hangat itu, suara-suara kritis tenggelam. Banyak kalangan minoritas dan pengamat keagamaan mempertanyakan, benarkah ini toleransi? Ataukah justru wujud nyata dari toleransi semu yang berlaku bagi kelompok mayoritas?

Dr. Zakir Naik adalah penceramah asal India, dikenal lewat gaya debat terbuka yang agresif membandingkan muslim dan non muslim. Ia mengkalim berdakwah dengan “logika ilmiah” dan “ilmu komparatif agama”. Namun, di negara asalnya, ia menjadi buronan atas tuduhan menyebarkan ujaran kebencian dan dugaan terorisme. Malaysia memberinya suaka, tetapi kemudian melarangnya berceramah setelah pidato-pidatonya dinilai rasis terhadap etnis Cina dan India.

Di tengah kontroversi internasional, Indonesia justru menjadi salah satu tempat paling ramah bagi Zakir. Di berbagai kota seperti Solo, Bandung dan juga Kota Malang, ia mengisi ceramah yang ditayangkan live di kanal youtube milik panitia. Berbagai tokoh politik daerah bahkan menyambutnya dengan jamuan makan malam resmi.

Fakta menarik dari Dr. Zakir Naik adalah ia dikenal karena perbandingan agama yang tajam dan kritis, yang dianggap sebagai tantangan bagi keyakinan orang lain. Hal ini dapat memicu perdebatan dan konflik jika tidak disampaikan dengan cara sopan dan saling menghormati. Selain itu Zakir Naik seringkali menekankan perbedaan antara Islam dan agama lain, yang dapat dianggap sebagai memperkuat stereotip dan mempolarisasi agama.

Dalam buku Agama dan Polarisasi : Studi tentang Konflik Agama di Indonesia oleh M. Qudsi Fauzi, agama dapat menjadi sumber polarisasi di masyarakat Indonesia, terutama ketika agama digunakan sebagai identitas kelompok atau sebagai alat untuk membedakan diri dari kelompok lain.

Kunjungan Zakir Naik ke Kota Malang mematik perdebatan, Arek Malang Bersuara menyampaikan keprihatinan, kalangan tokoh-tokoh umat beragama lainnya tidak pernah diajak berdialog sebagai sumber utama dari syarat toleransi. Bahkan perizinan yang terkesan tertutup dan tidak transparan menjadi sorotan publik di tengah kontroversi Zakir Naik.

Klaim atas forum dialog Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Malang untuk membahas ceramah Zakir Naik merupakan sesuatu yang tidak benar.

“Kami tidak pernah diajak berdialog sama sekali, tidak ada undangan dari pihak kepolisian atau panitia untuk bicara tentang kedatangan Zakir Naik,” ujar salah satu tokoh agama di FKUB.

2 hari menjelang kedatangan Zakir Naik, Forkopimda Kota Malang kompak bersuara belum mengetahui agenda ceramah di Stadion Gajayana. Hal itu sangat bertentangan dengan kondisi di lapangan bahwa semua sudah bersiap untuk kedatangan  Zakir Naik sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.

Arek Malang Bersuara

AMB sebagai salah satu komponen aliansi ormas yang menolak kedatangan Zakir Naik mengevaluasi polemik dakwah Zakir Naik.

AMB telah mendatangi satu persatu tokoh lintas agama yang tergabung dalam FKUB, dan dari pertemuan-pertemuan tersebut AMB mendapatkan fakta dan temuan yang bertolak belakang dengan klaim bahwa tokoh-tokoh lintas agama telah berdialog serta berembug demi terciptanya toleransi.

“FKUB secara institusional tidak pernah memberikan dukungan terhadap Zakir Naik di Malang, pernyataan panitia yang menyebut bahwa ceramah Zakir Naik tidak akan menyinggung keyakinan agama lain terbukti tidak ditepati. Selain itu masyarakat tidak dilibatkan secara transparan dalam proses perizinan,” ujar Fran narahubung AMB, Senin (14/7/2025).

“Kami berharap bahwa ini dapat dijadikan evaluasi serius dikemudian hari, agar Kota Malang tidak lagi dijadikan ladang eksperimen politik identitas dan provokasi berkedok agama,” tambahnya.

Bagi AMB sikap menolak ZAkir Naik bukan sikap anti umat beragama atau anti dakwah, tetapi bentuk perlawanan terhadap narasi intoleran yang dibungkus agama. Malang adalah rumah bersama, sudah sepatutnya kita jaga dan rawat dengan hati-hati serta dengan kesadaram sejarah.

Kasus Zakir Naik mencerminkan wajah toleransi Indonesia yang timpang. Toleransi hanya berlaku jika tidak menyinggung kelompok dominan. Sebaliknya, minoritas dituntut diam, atau dicap intoleran ketika mengkritik ketimpangan tersebut.

Indonesia membutuhkan toleransi yang otentik bukan semu. Negara harus adil dalam menegakkan kebebasan berbicara namun juga konsisten terhadap ujaran kebencian. Tokoh seperti Zakir Naik tak semestinya dijadikan simbol kebanggaan jika narasi yang dibawa justru mencederai semangat Bhineka Tunggal Ika.

Dalam negeri yang katanya menjujung pluraisme, tantangannya bukan hanya menerima keberagaman, tapi membangun keadilan dalam ruang keagamaan. Dan disana, ceramah Zakir Naik hanyalah cerminan kecil dari masalah yang jauh lebih besar.

More From Author

Tinggalkan Balasan

You May Also Like

Sebuah Refleksi : Saat Pers Bekerja Seperti Humas

Opini Vox Populi – Hari Pers Nasional 2026 datang di tengah riuh rendah informasi yang…

Manifesto Nahdlatul Ulama adalah Islam yang Revolusioner

OPINI Nahdlatul Ulama bukan sekadar organisasi keagamaan. Ia adalah gerakan peradaban, sebuah revolusi spiritual yang…

Merdeka Secara Politik Terjajah Secara Ekonomi, Ironi Kemerdekaan Rakyat Indonesia

Vox Populi, Kota Malang – Setiap 17 Agustus, rakyat Indonesia larut dalam euforia kemerdekaan. Bendera…